Powered By Blogger

Tuesday, 13 March 2012

PEKERTI

Ada ketikanya,
Diri terasa megah dengan kelebihan yang tidak seberapa.
Tetapi itu adalah lumrah
Bagi mereka yang angkuh di atas muka dunia.
Tuhan jadikan mulut untuk berbicara,
fikiran untuk mempertimbang logika,
hati untuk bermuhasabah....
tetapi sebaliknya kita pergunakan ketiga-tiganya untuk jalan yang salah.
Berhimpunnya angkuh di dalam diri,
Berasa megah dengan kelebihan sendiri,
Anggap diri berdarjat tinggi.
Dengan lagak bak puteri
Berbahasa tidak terperi.
Namun di dalam isi hati...?
Hanya TUHAN yang mengetahui.

BAHASA

Bahasa itu indah
Berbahasa itu lagi indah
Martabatkan bahasa juga sesuatu yang terindah.
Bahasa.
Kenapa kita sering mengagungkan bahasa luar negara?
Malukah kita untuk berbahasa Malaysia?
Jatuhkah air muka andai kata bahasa Malaysia diperguna?
Rupanya kita masih alpa...
Bahawa itulah bahasa pertuturan nenek moyang kita
Yang telah memartabatkan negara ini di suatu ketika.
Tak kiralah, sama ada ianya bahasa singkatan, campuran, atau bagaimana sekali pun cara...
Yang penting ianya indah pada pendengaran sesiapa.
Melayu....
Hanya kita sekelompok kecil bangsa Melayu yang mampu memertabatkannya.
Bukan sebanyak mana golongan kita,
Selain Brunai dan Indonesia, hanya kita yang menggunakannya.
Singapura pula cuma sejemput saja.
Susah sangatkah untuk memartabatkan bahasa kita?
Benarlah kata Tun Dr. Mahadhir bahawa,
‘MELAYU MUDAH LUPA....

KILAS WAKTU YANG TERLUANG

SURAM MALAM
Menghembus bahana sengsara,
Memarak duka nestapa,
Menyala derita di jiwa.
DINGIN PAGI
Membeku ruang perasaan,
Meluruhkan harapan,
Menyisih satu impian.
MENYINSING MENTARI
Meragut ketenangan nurani,
Membawa jiwaku pergi,
Merana diri seakan mati.          
DETIK WAKTU YANG BERLALU
Telah merubah rentak hatiku
Mengiktiraf derita di kalbu
Membuatku merana setiap waktu
NAMUN KU TETAP REDHA
Semua yang berlaku adalah penentu
Bagi setiap yang direstu
Hingga menyusul ke akhir waktu....

ANDAI KU MAMPU

ANDAI BEBUIH CAHAYA
mampu merawati sarang derita
Akan ku tiup bebuih nan indah meliputi awanan sana
ANDAI SURIA
mampu merubah apa yang tercipta
Akan ku olahnya bagi membasuh selautan jiwa yang terasa
ANDAI SUARA
mampu memujuk ruang rasa
Akan ku dendangkan lagu seindah alunan tercipta
ANDAI MUSIM
mampu merubah gelora
Akan ku raup setiap musim lalu ku himpun di ruangan yang nyata
ANDAI ONAK RASA
mampu ku kuis dari ruangan jiwa
Akan ku rentap segalanya agar merubah apa yang terasa
SEMOGA BEBAS DARI DUKA NESTAPA….

PESANAN BUAT SEMUA

JIKALAU KITA...
Terlalu asyik menyonsong awan di langit sana
Kadang kala terlupa
mendung yang menyusul tiba
Itulah resam umat manusia
Leka, terlupa dan alpa,
pada kehidupan yang sementara
Hingga membawa suatu perubahan ketara....
ALANGKAH INDAHNYA....
Andai kita di atas muka dunia,
cuba merubah resam yang tercipta....
Beringat sebelum kena,
berjaga sebelum terluka.
Maka ia mampu memupuk rasa bahagia
hingga ke penghujung usia.
Itu adalah sebaik-baiknya
dari menadah sesuatu yang belum nyata........

JUNJUNGAN SETIA

Ku hampar serapah kasih,
Di lembaran jiwa terhiris.
Ku raup helaian rindu,
seiringan lagu-lagu syahdu
Ku titip ayat pasrah
Dengan redha dan berserah
Lalu ku susun kalungan doa.
Setiap detik yang tergadai,
selama jasad ini bernyawa,
agar dapat Kau basuh lingkungan badai
walau seluasnya lautan di dunia.
Semoga jasad dan roh yang bersatu, imannya tidak terlerai
Bagi menanam kesucian abadi terhadap yang Berkuasa.
Kan ku sisip momen indah di lipatan hati
Bersama kuntuman restu dan pengharapan
Agar ku bajai kasih di relung nurani
Dengan siraman bahagia di batas ikatan
Semoga mekarnya harum sepanjang destinasi.
Andainya kasih kembali menyapa
Akan ku sujud di junjungan setia
Agarku lewati bersama
Rona bahagia ke usia senja
Kepada Mu ku susunkan
Kesepuluh jari penuh keinsafan
Sebelum alam ini ditinggalkan,
Kepada Yang Esa yang menjadikan langit, bumi, bulan dan matahari
agar merestui jasad dan roh ku ini
dan memberkati hingga ke alam abadi....

KETENANGAN YANG HAKIKI

Kadangkala...
Pabila pandangan terhala ke langit,
Hati yang resah turut dibelai
Melahirkan ketenangan
seluas nurani
Namun...
Damai yang menyapa cuma seketika
Pabila senja ...
langit kembali merona
menghimpun senjakala yang kian sesak,
resah, pilu, derita dan segala rasa....
Bagaimanakah layar
damai.... tenang...dan bebas akan dirasa
 andai rona derita kian bergelodak di dada?
 langit membiru tidak pernah berjanji
pada ruang di pelosok nurani.
Mungkinkah kebiruan lautan yang membias
menjanjikan damai di ruang kosmos?
Tetapi...
Bagaimana dengan ombak dan badai
teman sepermainan yang berhempas pulas?
Bukankah ombak memutih dan badai bergulung
turut mengganggu rona lautan
hingga merenyuk kedamaian di ruangan perasaan?
Tiga sekawan terhempas mengganas...
bukankah detik-detik begitu meragut setiap titik rasa di ruangan dada?
 langit membiru dan lautan meluas
bukan janji pada resah dan gelisah.           
Mungkinkah bumi menghijau
 mampu memujuk rasa,
menggenggam damai seluas angkasa?
Bagaimana dengan unggas-unggas yang mengganggu pancaindera?
Tidakkah ia bakal merobek sisa damai di ruang gelisah?
Sebagai insan berpegangan....
miliki roh dan juga jasad,
aku pusatkan di pemikiran
bahawa rona-rona alam bukan janji untuk redakan kekusutan
Apa yang pasti.....
 MENADAH TANGAN KE LANGIT
SESUDAH MENUNDUK SUJUD PADA YANG ESA
Itulah ketenangan yang hakiki
Yang patut kita miliki…